Senin, 31 Oktober 2011

Bahasa Indonesia Sebagai Alat Komunikasi Dalam Mempersatukan Bangsa

Sekarang adalah bulan oktober . Dan tahu tidak sebentar lagi kita akan memperingati hari sumpah pemuda. Hari dimana seluruh keragaman dan perbedaan dipersatukan serta diselaraskan untuk menciptakan seorang para pemuda yang kokoh. Saya akan mengutip dari salah satu poin sumpah pemuda yaitu :” Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia”. Dari kutipan tadi saya tertarik dengan kata ”mengaku berbangsa yang satu” ini mengartikan sebagai bahasa Indonesia adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sesama Dan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Pada tahun 1928 bahasa Indonesia di kokohkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa Negara pada taggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu Undang – Undang dasar 1945 di sahkan sebagai Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di dalam UUD 1945 disebutkan bahwa “Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia” (Bab XV, Pasal 36). Prolamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengkukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Kita tahu bangsa Indonesia itu merupakan bangsa yang kaya dengan berbagai keragaman yang terkandung di bumi pertiwi ini. Dengan keragaman suku, bahasa, adat istiadat, tarian, kesenian dan lain-lain. Tapi dari keragaman itu tentu akan tidak sulit untuk menemukan titik temu terutama bahasa Indonesia inilah mengambil peran besar dalam menemukan titik temu.

Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kitamenciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai

macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4). Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan dan pemikiran yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli atau menanggapi hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita.

Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum..Dengan kata lain, kata besar atau luas,dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata makro akan memberikan nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional. Maka kita harus bangga dengan kehadiran bahasa Indonesia, caranya menggunakan bahasa Indonesia baik dan benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar